Kepribadian Ganda pada Anak Bisa Disebabkan Oleh Orangtua

Gangguan identitas disosiatif atau lebih dikenal dengan sebutan kepribadian ganda, merupakan gangguan mental dimana seseorang akan merasakan kehadiran identitas lain selain dirinya sendiri. Masing-masing pribadi juga memiliki identitas dan perilaku yang berbeda-beda. Namun, mengapa kondisi ini dapat terjadi? Simak penjelasan berikut ini.

Penyebab gangguan kepribadian ganda, hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, pada teori psikologi yang banyak dianut saat ini menyatakan bahwa gangguan kepribadian ini dapat timbul sebagai akibat trauma yang dialami semasa kecil. Trauma mental yang berat di masa kecil, terutama jika dilakukan oleh orangtua sendiri, dapat memicu seorang anak untuk memutus kesadaran dan ingatannya terhadap trauma tersebut.

Hal ini dikarenakan, peran orangtua yang seharusnya menjadi sosok pelindung dan sosok yang menyayangi anak, justru membuat suatu konflik yang mengakibatkan anak memiliki trauma. Dalam menghadapi trauma berat tersebut, sanga anak biasanya tidak mampu menciptakan dan mengembangkan satu identitas untuk menghadapi trauma. Gangguan kepribadian ganda juga bisa muncul sebagai akibat “pelarian” dari trauma.

Gangguan ini sering disamakan dengan post-traumatic stress disorder (PTSD) karena mekanisme terjadinya yang mirip. Namun pada gangguan kepribadian ganda, muncul banyak kepribadian atau identitas pada satu orang, yang tidak ditemukan pada PTSD. Gangguan kepribadian ganda bisa ditemukan pada anak atau orang dewasa dengan riwayat tubuh tumbuh kembang dalam situasi keluarga yang penuh kekacauan, pemaksaan, atau trauma fisik atau seksual.

Penderita gangguan ini juga biasanya ditemukan berkembang dalam keluarga yang cenderung disosiatif, tidak memiliki keterikatan yang kuat dengan orangtua, serta komunikasi yang tidak lancar. Ketika menghadapi trauma beratnya, anak akan menciptakan beberapa gambaran dan identitas diri. Hal ini ditujukan sebagai mekanisme pertahanan diri dalam menghadapi suatu konflik dan perasaan yang bertentangan, seperti pengkhianatan, terror, cinta, dan rasa malu. Dengan adanya pertentangan dengan kebutuhannya untuk disayangi, akhirnya trauma yang berat tersebut bisa menyebabkan kegagalan identitas yang ada untuk bersatu menjadi identitas diri yang utuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *