Kenali Jenis dan Gejala Hipertermia Berikut Ini

Mungkin Anda sudah tidak asing dengan hipotermia, namun apakah Anda tahu tentang hipertermia? Hipertermia dikenal sebagai kondisi yang berkebalikan dari hipotermia. Jika ingin tahu lebih lanjut, simak penjelasan kondisi ini secara medis.

Apa itu hipertermia?

Saat panas tubuh tidak bisa menyesuaikan diri dengan panas lingkungan, maka terjadilah hipertermia. Hipertermia adalah suatu kondisi di mana suhu tubuh meningkat terlalu tinggi, bahkan bisa berbahaya bagi kesehatan. Biasanya suhu tubuh orang normal itu sekitar 37 C tapi jika Anda terkena hipertermia maka suhu tubuh bisa mencapai 40 C lebih.

Jenis dan gejala hipertermia

Hipertermia terdiri dari beberapa jenis sehingga gejalanya juga cenderung berbeda-beda tergantung pada jenis yang dialami penderitanya. Berikut jenis dan gejala hipertermia yang wajib Anda ketahui:

  1. Heat stress

Jenis hipertermia ini terjadi ketika suhu tubuh Anda mulai meningkat, namun sulit untuk turun kembali padahal Anda sudah berkeringat. Gejala yang Anda mungkin rasakan, seperti kepanasan, harus, mual, pusing dan sakit kepala.

  • Heat fatigue

Pada jenis ini, Anda akan merasa tidak nyaman setelah kepanasan. Kondisi ini umumnya banyak dialami oleh orang-orang yang bekerja di lingkungan panas, atau tidak terbiasa dengan cuaca panas. Anda akan merasakan gejala ini seperti jenis heat stress, tapi Anda juga akan sulit untuk berkonsentrasi dan mengendalikan tubuh.

  • Heat edema

Hipertermia jenis ini dapat terjadi jika Anda duduk atau berdiri di lingkungan panas dalam waktu yang lama. pergelangan kaki dan tangan Anda pun bisa menjadi bengkak.

  • Heat rash

Jenis hipertermia ini bisa terjadi saat Anda beraktivitas di lingkungan yang panas dalam waktu yang lama. Gejala heat rash adalah dengan munculnya bintik-bintik merah seperti jerawat saat Anda masih menggunakan baju yang basah dan berkeringat untuk beraktivitas.

  • Heat syncope

Jika Anda beraktivitas di cuaca panas dalam waktu yang lama, maka Anda bisa terkena hipertermia heat syncope. Kondisi ini bisa membuat Anda pingsan karena tekanan darah menurun, dan aliran darah ke otak berkurang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *