Pemulihan Pasca Operasi Ablasi Retina

Operasi ablasi retina adalah operasi yang dilakukan dokter mata untuk memperbaiki aliran darah ke retina dan mempertahan fungsi penglihatan pada orang yang mengalami ablasi retina. Ablasi retina sendiri merupakan kondisi terlepasnya retina dari jaringan penyokongnya. 

Lalu, bagaimana pemulihan pasca operasi ablasi retina ini? Apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan? Nah, berikut penjelasannya!

Apa itu ablasi retina? 

Retina adalah lapisan tipis sel saraf dan pembuluh darah yang melapisi bagian dalam mata. Peka terhadap cahaya seperti film di kamera dan sangat penting agar Anda dapat melihatnya. Ablasi retina terjadi ketika sebuah lubang atau beberapa lubang telah berkembang di retina, cairan telah melewati lubang yang menyebabkan retina terlepas atau terkelupas dari bagian dalam mata. 

Hasil dari proses ini adalah hilangnya seluruh atau sebagian dari penglihatan Anda. Tanpa pengobatan atau operasi ablasi retina biasanya menyebabkan hilangnya penglihatan secara permanen pada mata yang terkena. 

Ablasi retina terjadi ketika retina terlepas dari pembuluh darah yang disebabkan oleh:

  • Adanya robekan kecil di dalam retina  
  • Menumpuknya cairan vitreus tanpa disertai robekan pada retina
  • Terbentuk jaringan parut di permukaan retina

Pemulihan pasca operasi ablasi retina

Proses pemulihan retina yang terlepas bisa sedikit berbeda untuk setiap orang. Kondisi kesehatan pasien, jenis pembedahan, tingkat keparahan pelepasan, dan lokasi pelepasan semua dapat menjadi faktor dalam tindakan pencegahan pasca operasi yang direkomendasikan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar sembuh. 

Ada tiga jenis operasi ablasi retina, yaitu scleral buckle, vitrectomy, dan pneumatic retinopexy. 

Pemulihan pasca oeprasi scleral buckle atau vitrectomy

Operasi scleral buckle adalah cara umum untuk merawat retina yang terlepas. Selama prosedur ahli bedah akan memasang pita silikon di sekitar mata, yang memaksa mata ke dalam dan mengurangi tekanan pada retina, memungkinkannya untuk sembuh.

Sedangkan vitrectomy dapat digunakan sebagai alternatif untuk scleral buckle, tetapi mereka juga dapat digunakan bersama-sama dalam operasi yang sama. Selama vitrectomy, sebagian atau semua cairan di dalam mata (cairan vitreous) dikeluarkan dan diganti dengan minyak silikon. Ini mendorong bagian retina yang terlepas kembali ke tempatnya dan memungkinan untuk sembuh. 

  • Setelah salah satu operasi, mata yang terkena mungkin terasa sedikit nyeri, sakit, atau gatal. Ini bisa berlangsung selama beberapa hari. 
  • Pasien akan diminta untuk menggunakan penutup mata atau pelindung mata logam sampai konsultasi lanjutan pertama mereka. Setelah itu, mereka mungkin akan diminta untuk terus memakainya saat tidur, bahkan saat tidur sebentar. 
  • Seorang ahli bedah dapat menyuntikkan gelembung gas ke mata selama operasi. Gelembung ini digunakan untuk menahan retina yang terlepas di tempatnya sampai bisa sembuh. Dalam kasus ini, pasien perlu memiringkan kepala dalam posisi tertentu sampai gelembung hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.
  • Aktivitas stres rendah biasanya dapat dilanjutkan segera setelah operasi. Ini termasuk menonton televisi, berjalan, membaca, dan pergi menggunakan mobil. 
  • Kegiatan lain yang perlu dihindari sampai pemberitahuan lebih lanjut oleh dokter, termasuk aktivitas fisik yang melelahkan, terbang dengan pesawat, menggosok mata, mengemudi, dan mengangkat apa pun yang berat dari 4 kg. 

Sebagian besar gejala tidak nyaman akan mereda dalam beberapa hari pertama, meskipun proses penyembuhan penih akan memakan waktu lebih lama atau selama beberapa bulan. 

Pemulihan dari retinopeksi pneumatic

Proses pemulihan ini cenderung lebih singkat dan lebih ringan daripada scleral buckle atau vitrectomy. 

  • Ketidaknyamanan ringan akan terjadi setelah operasi, tetapi ahli bedah akan meresepkan obat untuk meningkatkan kenyamanan sebanyak mungkin. 
  • Selama satu atau dua hari pertama, ahli bedah mungkin menyarankan untuk memakai penutup mata atau pelindung untuk mencegah cedera mata yang tidak disengaja.
  • Pasien harus mempertahankan posisi kepala yang sama hampir sepanjang hari untuk menjaga agar gelembung tetap di tempatnya, periode ini biasanya berlangsung antara lima hingga delapan hari.
  • Tetes mata antibiotik harian mungkin diresepkan untuk mencegah infeksi. 
  • Perjalanan udara perlu dihindari untuk sementara waktu, karena dapat menyebabkan gelembung udara mengembang di dalam mata. Menghindari aktivitas lain, seperti olahraga berat dan angkat berat, juga tidak disarankan. 

Jadi, setelah melakukan operasi ablasi retina Anda harus mengikuti aturan yang telah diberikan oleh dokter. Dengan begitu, retina akan sembuh sesuai yang telah diprediksikan dokter. Jika tidak, maka proses penyembuhan pun akan semakin lama. Bahkan bukan tidak mungkin bisa menyebabkan hal berbahaya lainnya pada mata Anda.

Alami Patah Tulang Akibat Osteoporosis? Kifoplasti Solusinya!

Osteoporosis adalah salah satu jenis kerusakan tulang yang biasanya terjadi saat Anda berusia lanjut. Kondisi ini menyebabkan tubuh mengalami pengeroposan tulang, sehingga tulang menjadi lemah. Dalam kasus yang lebih berat, osteoporosis dapat menyebabkan penderitanya mengalami patah tulang atau fraktur. Umumnya, patah tulang akibat osteoporosis terjadi di bagian pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan. Oleh sebab itu, diperlukan suatu tindakan operasi untuk mengobati patah tulang Anda, yaitu kifoplasti.

Apa sih faktor pemicu osteoporosis?

Faktor risiko seseorang mengalami osteoporosis dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat diubah.

Faktor yang tidak dapat diubah terdiri atas :

  1. Jenis kelamin, di mana perempuan lebih sering mengalami osteoporosis dibandingkan laki-laki.
  2. Usia, pertambahan usia memicu tingginya risiko mengalami osteoporosis.
  3. Ras atau suku, di mana ras berkulit putih atau keturunan Asia cenderung lebih berisiko terkena osteoporosis.
  4. Riwayat keluarga, jika keluarga memiliki riwayat patah tulang, seperti patah tulang pinggul, maka risiko osteoporosis semakin besar.
  5. Ukuran tubuh, yaitu seseorang yang memiliki kerangka tubuh kecil cenderung lebih berisiko karena memiliki massa tulang yang sedikit.

Adapun faktor yang dapat diubah adalah sebagai berikut.

  1. Keseimbangan hormon, yaitu kadar hormon yang terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat memengaruhi seseorang mengalami osteoporosis.
  2. Asupan kalsium yang rendah, sehingga kepadatan tulang menurun.
  3. Operasi gastrointestinal yang menghilangkan bagian usus untuk menyerap zat gizi, sehingga penyerapan zat gizi kalsium ikut berkurang.
  4. Penggunaan obat-obatan steroid akan mengganggu proses pembentukan tulang.
  5. Mengalami kondisi medis tertentu, seperti celiac, radang usus, ginjal, hati, kanker, lupus, dan artritis reumatoid.
  6. Gaya hidup, misalnya sedentary lifestyle, konsumsi minuman alkohol, dan kebiasaan merokok.

Lalu, seperti apa tindakan kifoplasti?

Kifoplasti merupakan operasi untuk mengobati fraktur yang terjadi di bagian tulang belakang. Dalam prosedur ini, dibuat suatu ruang untuk campuran semen di tulang yang keropos. Dokter akan memasukkan dan mengembangkan balon untuk membuat celah tersebut. Balon akan dilepas setelah campuran semen disuntikkan. Kifoplasti sering disebut juga sebagai vertebroplasty balon.

Seseorang yang mendapatkan operasi ini biasanya mengalami patah tulang belakang akibat osteoporosis. Kondisi ini menyebabkan blok tulang pada bagian tulang belakang melemah bahkan runtuh, sehingga timbul rasa sakit, kehilangan bentuk, dan kehilangan ketinggian (bungkuk). Selain osteoporosis, kifoplasti juga diberikan pada penderita patah tulang akibat trauma, seperti kecelakaan mobil, cedera olahraga, dan tumor yang menyebar ke tulang belakang.

Mengapa patah tulang akibat osteoporosis butuh tindakan kifoplasti?

Patah tulang (fraktur) adalah komplikasi berat dari osteoporosis, terutama dibagian pinggul dan tulang belakang. Fraktur pinggul seringkali terjadi saat terjatuh dan bisa menyebabkan kecacatan. Bahkan, dapat meningkatkan risiko kematian dalam tahun pertama setelah cedera.

Fraktur yang terjadi di tulang belakang dapat terjadi kapan saja meskipun Anda tidak terjatuh. Gejala yang dapat terjadi adalah rasa sakit hebat di bagian punggung hingga tulang jadi melengkung atau tubuh membungkuk.

Puncak pertumbuhan tulang seseorang terjadi saat usia 30 tahun. Seiring bertambahnya usia, percepatan pembentukan tulang akan melambat dibandingkan proses pemecahan tulang. Lama-kelamaan, massa tulang pun hilang. Seberapa besar kemungkinan Anda mengalami osteoporosis bergantung pada seberapa banyak massa tulang yang terbentuk saat usia muda.

Kapan tindakan kifoplasti dapat dilakukan?

Sebelum dokter memutuskan memberikan tindakan operasi, pasien akan diberikan terapi non-bedah, seperti obat anti-nyeri, kompres dengan air hangat atau dingin,  TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation), dan pijatan. Namun, jika rasa sakit yang timbul sudah tidak mempan dihilangkan dengan terapi non-bedah, maka kifoplasti akan disarankan oleh dokter untuk mengatasi patah tulang.

Umumnya, operasi dilakukan dalam waktu dua bulan setelah pasien didiagnosis patah tulang. Dengan kifoplasti, penderita patah tulang akibat osteoporosis dapat meringankan rasa sakit dan meningkatkan mobilitas sehari-hari di saat tindakan non-bedah gagal menyembuhkannya. Selalu konsultasikan dengan dokter untuk memperoleh penanganan terbaik dalam mengatasi patah tulang Anda.