Apa Saja Jenis Stressor?

Pemicu stres atau stressor ada banyak jenisnya

Setiap orang tentunya sering menghadapi tekanan. Tekanan seperti banyaknya pekerjaan dapat membuat mereka stres. Berbagai kejadian yang bisa memicu stres, baik secara internal maupun eksternal. Ketika manusia mengalami stres, kondisi tersebut merupakan respons biologis alami tubuh karena menghadapi situasi yang tak terduga atau berbagai jenis stressor.

Orang-orang perlu memahami jenis stressor supaya mereka dapat mengidentifikasi penyebab stres yang mereka alami. Selain itu, mereka dapat melakukan cara-cara untuk mencegah masalah seperti ini.

Jenis Stressor

Stressor dibagi menjadi 3 jenis, antara lain:

  • Stressor fisik

Stressor fisik adalah jenis stressor yang melibatkan kondisi fisik seseorang. Orang-orang yang mengalami masalah seperti ini disebabkan oleh rasa nyeri, lelah, dan jenis penyakit tertentu seperti diabetes dan penyakit jantung.

  • Stressor psikologis

Stressor psikologis adalah jenis stressor yang disebabkan oleh masalah kejiwaan seseorang. Orang-orang yang mengalami masalah seperti ini bisa disebabkan oleh konflik, patah hati, iri hati, dendam, atau putus asa. 

  • Stressor sosial budaya

Stressor sosial budaya adalah jenis stressor yang berasal dari kehidupan sosial dan lingkungan. Contoh-contoh penyebab jenis stressor ini adalah kehilangan pekerjaan dan perceraian.

Ketika manusia mengalami stres akibat jenis stressor, kelenjar hipotalamus pada bagian otak menimbulkan reaksi berupa menghasilkan berbagai hormon, termasuk hormon kortisol dan adrenalin.

Hormon Kortisol

Hormon kortisol merupakan hormon stres utama yang memiliki peran penting ketika manusia mengalami berbagai jenis stressor. Hormon tersebut pada dasarnya berfungsi untuk:

  • Meningkatkan jumlah glukosa dalam aliran darah.
  • Membantu otak menggunakan glukosa dengan lebih efektif.
  • Meningkatkan aksesibilitas zat yang melakukan perbaikan jaringan di dalam tubuh.
  • Mengubah respons sistem imun.
  • Mempengaruhi sistem reproduksi dan memicu terjadinya gangguan seperti menstruasi tidak teratur, penurunan gairah seks, impotensi, bahkan penurunan produksi sperma.
  • Mempengaruhi bagian otak yang mengendalikan rasa takut seseorang.

Hormon kortisol dapat membantu manusia menghadapi masalah yang membuat mereka stres. Namun, jika stres tidak dapat dikendalikan dengan baik dan kadar hormon kortisol tetap tinggi dalam jangka waktu yang lama, hal tersebut dapat menimbulkan masalah berupa:

  • Peningkatan berat badan.
  • Kekurangan energi.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Gangguan tidur.
  • Osteoporosis.
  • Diabetes tipe 2.
  • Pelemahan pada sistem kekebalan tubuh.
  • Penurunan daya ingat.

Penting bagi seseorang untuk menjaga kadar hormon kortisol agar terus rendah. Jika kadar hormon kortisol tinggi dan terus dibiarkan, maka dapat membuat seseorang mengalami gangguan jiwa.

Hormon Adrenalin

Selain hormon kortisol, tubuh juga menghasilkan hormon adrenalin ketika merespons berbagai jenis stressor. Hormon tersebut pada dasarnya berfungsi untuk:

  • Meningkatkan detak jantung dan laju pernafasan.
  • Membuat otot menyerap glukosa dengan mudah.
  • Melancarkan aliran darah ke bagian otot.
  • Merangsang produksi keringat.
  • Menghambat produksi insulin.

Meskipun demikian, peningkatan hormon adrenalin secara rutin yang disebabkan oleh stres dapat memicu masalah kesehatan berupa:

  • Kerusakan pada pembuluh darah.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Sakit kepala.
  • Rasa cemas.
  • Berat badan yang meningkat.
  • Insomnia.
  • Risiko yang lebih besar terhadap serangan jantung dan stroke.

Penting Untuk Mengendalikan Stres

Stres adalah salah satu penyebab masalah kesehatan yang serius. Oleh karena itu, jika Anda menghadapi berbagai jenis stressor, Anda sebaiknya coba untuk belajar mengendalikan emosi Anda. Contoh-contoh cara yang dapat Anda lakukan untuk mengendalikan masalah ini adalah berolahraga, meditasi, dan meluangkan waktu untuk bersantai.

Anda tentunya tidak harus mengatasi masalah seperti ini sendiri, dan jika Anda terus mengalami jenis stressor, Anda sebaiknya konsultasikan masalah ini dengan psikolog supaya Anda dapat menemukan jalan keluarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *